Jumat, 15 Juni 2012

cerpen " Romansa di atas awan "

Hatinya dirinding ketakutan. Dee ingin mengejar ketakutan itu sampai dia tahu hidupnya masih punya harapan.Langit masih mendung. Bintang belum juga tampak untuk dilihat. Dee mengajakku melintasi padang ilalang, menelusuri jalan becek yang sore tadi diguyur hujan.’’Kita mau kemana?” tanyaku dengan nada heran.’’Ayolah! Ikut aja”.Kakiku mulai kelelahan mengikuti irama langkah Dee. Baru kali ini aku melihat Dee yang penuh semangat. Penasaran membuatku juga bersemangat untuk terus berjalan. ’’Setelah sampai kita akan menemukan keragaman jiwa yang pernah dibungkam oleh kesepian.”Aku bertambah heran. Sesuatu yang dimaksud Dee bukanlah hal yang mustahil untuk ditanyakan. Di perbukitan ini, tidak mungkin ada manusia yang berani naik dalam keadaan seperti ini. Jalannya licin. Batu kecil dan besar menganga, siap memangsa kaki yang menginjaknya. Tidak menutup kemungkinan jka ular juga siap mematuk. Namun Dee membuktikan bahwa dirinya bisa melalui itu. ’’Tolol” umpatku dalam hati. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi meski semangat itu menggebu. Jari kakiku sudah menjadi korban keganasan batu alam. Sayatan kecil disertai percikan darah membuatku engah untuk melanjutkan perjalanan. Dee melihat luka dikakiku. Dia malah tertawa mengejek.’’Kamu memang gak pernah tahu penderitaan orang lain” ungkapku sembari menahan kesakitan.Dee tak henti mengejekku. Muuuach. Sesuatu mengenai keningku. Perasaanku berubah drastis. Ciuman itu…’’Kita hampir sampai” ucapnya.Aku masih terpaku dengan hadiah yang pertamakali Dee berikan. Dunia ini seakan menjadi perlintasan antara aku dan Dee. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah sebuah perasaan kosong. Dee telah berbuat apa yang belum aku sangka sebelumnya. Ciuman yang sangat spesial bagiku.Dee manarik tanganku. Dari jarak 15 meter bukit maya sudah terlihat. Kami kembali melanjutkan perjalanan.’’Kamu yakin akan menemukan keindahan setelah ini” tanyaku lagi.’’Bawel. Nanti lihat aja sendiri”.Aku terdiam. Barangkali benar. Keindahan itu sudah hampir tampak. Cahaya gemilang berpijar dari atas bukit maya. Itukah yang dimaksud Dee dengan dunia di atas awannya. Aku tak sabar lagi untuk sampai ke bukit itu. Bersama Dee aku menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang hanya Dee yang tahu keberadaannya. Dan sekarang aku juga tahu. Dee semakin erat menggenggam tanganku. Mendung sudah hilang, berganti gemerlap bintang-bintang. Kami sudah menginjakkan kaki di atas bukit Maya. Dee… kau adalah wanita yang beda.                                                   
* * * *
Di bukit maya, Dee pertamakali bertemu dengan Kinnara*1 . Dia mengajak Dee terbang mengelilingi indahnya surga. Dia juga banyak bercerita tentang seorang bidadari yang ingin keluar dari kungkungan Tuhan. Bidadari itu meminta pada Tuhan agar diberikan satu perasaan, yaitu cinta. Tuhan murka mendengar permintaan bidadari itu. Bidadari tetaplah bidadari yang harus tunduk pada aturan kerajaan Tuhan. Dia tak diberikan perasaan apapun kecuali melaksanakan titah sang raja. Bidadari itu kabur ke dunia. Dia memberontak pada aturan. Lalu, Tuhan mengutuknya menjadi seorang gadis yang malang. Gadis itu terdampar di sebuah bukit yang gersang, sepi, dan jauh dari permukiman. Pertamakali gadis itu tak tahu apa yang hendak dilakukan. Ia menemukan pohon kecil yang tumbuh. Dengan cinta yang dimilikinya, ia memelihara pohon itu.Bertahun-tahun gadis itu berada di atas bukit. Pohon yang dirawat juga tumbuh besar, sehingga dia membuat tempat tinggal di bawahnya. Gadis jelamaan bidadari itu merasakan apa yang dilaluinya di bukit itu terasa hambar. Ia punya cinta, tapi tidak tahu kemana cinta itu tertambat selain kepada tumbuhan. Kembali dia bertanya pada Tuhan tentang takdirnya sebagai manusia. Namun kali ini Tuhan tak mengindahkan permintaannya untuk diberikan seorang yang bisa mendampingi dirinya. Ia tak percaya lagi pada Tuhan. Tuhan pun bertambah murka. Kemudian Tuhan memberikan dua pilihan padanya. Ia kembali ke surga sebagai hamba sahaya atau tetap berada di atas bukit tanpa ditemani seorang manusia. Gadis itu tetap dengan pilihannya untuk tetap tinggal di bukit itu walau dia harus sendiri. Dengan keikhlasan serta resiko yang harus ditanggungnya, ia menghabiskan waktu hidupnya di bukit maya. Cinta yang dimiliki gadis menjelma menjadi gumpalan awan disertai bintang-bintang. Gadis itu oleh penduduk sekitar dinamakan Maya, sehingga bukit itu dinamakan bukit maya. Tiap malam, bukit itu bersinar terang. Tidak semua orang bisa melihat keindahannya, cuma jiwa sepi yang bisa menikmati keindahannya. Begitulah cerita Kinnara tentang perjalanan bidadari kepada Dee.     
* * * *
Kami melepas lelah. Setelah hampir 2 jam berjalan, apa yang ingin ditunjukkan Dee sangat menakjubkan. Tempat menepi dari kegundahan, keresahan, dan perasaan haus akan bersama dengan diri sendiri bisa kutemukan disini.’’Apa yang kamu lihat ini belum apa-apa”, Dee menerawang pada bekas petang yang tersisa. Bulan sabit mulai meninggi. Kabut bergumul dengan alam, memberi hawa dingin bagi kami. ’’Bukit ini masih menyisakan kenangan”’’Dee sering kesini?”’’Tubuhku sudah tidak mengizinkan lagi”’’Maksudmu apa Dee?’’’’Tak ada yang lebih mengerti keadaan ini dari pada diri sendiri”. Kali ini Dee ingin menerjemahkan semua perasaannya. Dee memetik setangkai bunga, dan memberikannya padaku. Bunga itu hampir layu. Aku kembali bertanya pada diri sendiri kenapa Dee tidak memetik bunga yang baru mekar di sebelahnya. Sikap Dee memang membuatku heran. Selama perjalanan dia membuat peristiwa yang kurasa janggal untuk dilakukannya. Dia bukan Dee yang aku kenal. Malam ini sikapnya sangat beda, mulai dari mencium keningku, membuatku kesal, bahkan semangatnya untuk mencapai bukit ini begitu besar.’’Kamu kenapa, Dee?”Dee cekikikan. Benar dugaanku, sikapnya mulai aneh.”Nikmati saja dunia ini. Bukanlah kini semua yang ada bersamaku punya tujuan. Termasuk kamu. Selama masih ada waktu, kita bisa mencapai tujuan itu. Namun sayang, aku sudah tidak punya waktu untuk mencapai tujuanku sendiri.””Kamu itu aneh Dee?”Sambil tertawa ia memegangi kedua pundakku ”Apanya yang aneh. Lihatlah mataku. Air mataku tidak akan mengalir, karena aku masih punya waktu untuk mengenang tempat ini. Setelahnya aku akan pergi.”Gaya bicara Dee semakin ngelantur. Peristilahan yang diucapkannya menambah kejenuhanku untuk berpikir.”Kamu mau kemana? Mati?” ejekku. Dee menertawaiku sambil menepuk pundakku.”Jika kematian terjadi malam ini, aku siap. Mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi.”Kami terkesiap oleh hempasan angin. Suara di sekitar kami hening. Kami tidak berbuat apa-apa. Kami duduk berpaku lutut, memandangi alam berjumawa pada keadaan. Aku melihat Dee. Penampilannya yang tomboy kadang membuatku bosan mewanti-wanti untuk merubah penampilan seperti wanita pada umumnya. Malam ini ada cahaya seakan keluar dari tubuh Dee. Begitu terang, mengalahkan semua cahaya di bukit ini.”Dee…”Tiba-tiba tubuh Dee terkapar. Ia pingsan. Wajahnya pucat. Tubuhnya demam. Aku berteriak. Aku mencoba melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan demi menolongnya. Pikiranku langsung tertuju pada tas ransel miliknya. Aku mencari sesuatu di dalamnya, entah itu obat-obatan atau barang lainnya. Dan aku menemukan sebuah bungkusan kecil, sepertinya berisi obat-obatan.”Dee bangunlah.” Ia tak bereaksi. Demamnya semakin tinggi. Aku membuka bungkusan itu, dan ternyata….”Obat ini ??”Aku tidak percaya. Dee mengkonsumsi obat-obatan ini. Obat-obatan yang pernah aku belikan untuk Vivid. Dee mengidap penyakit….!”Arggghhh.. kenapa harus terulang lagi. Kejadian 3 tahun lalu kenapa harus dialami lagi oleh orang terdekatku”.Dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuh Dee kugendong. Aku berlari sekencang mungkin melewati semak, menerobos padang ilalang, dan menghancurkan ranjau-ranjau perbukitan. Dee harus diselamatkan. Sebagai teman dekatnya aku sangat menyesal, karena tidak tahu keadaannya. Apa lagi mengenai sakit yang diderita. Aku ini teman tak berguna. Dee, maafkan aku. Kamu tidak sendiri, masih ada aku yang setia menemanimu. Kita adalah dua insan yang berkarakter sama. Sifat kita introvert. Kita punya dunia sendiri. Dunia yang kita cipta sendiri. Bertahanlah Dee. Kita hampir sampai di permukiman penduduk. Kamu akan baik-baik saja.                                                                                        
  * * *
Dee koma, ia terbaring di ruang Anggrek RS. Cipta Medika. Mukanya pucat. Harapan dan keyakinannya mengecap dalam pusaran tubuh lemahnya. Dia bermain sendiri dalam dunianya. Saya yakin Dee tidak koma, tapi dia menghampiri ruang angannya. Setelah semalam dokter melakukan kolrposkopi*2 , keadaanya semakin membaik. Dua orang pemuda datang membesuk Dee. Aku berada di luar kamar mempersilahkan mereka masuk. Di dalam kamar, ibu Dee sedang menunggu anaknya siuman.”Anda temannya?” sapanya. Aku sedikit kesal dengan sapaannya. Nada bicaranya tidak sopan.”Betul” jawabku sekenanya.Tampak salah satu pemuda sudah akrab dengan keluarga Dee. Dia mungkin punya kedekatan emosinal dengan mereka. Aku cuma bisa menyaksikan dia akrab berbincang-bincang dengan ibunya Dee. ”Siapa dia” tanyaku pada diri sendiri.Aku ingin acuh pada pertanyaanku tentang jati diri pemuda itu. Aku ingin berhenti bertanya, tapi tidak bisa. Mungkinkah aku cemburu pada dia. Tidak mungkin. Aku dan Dee adalah sahabat, tidak lebih. Kedatangan pemuda itu membuat perasaanku risau. Padahal aku tidak punya ikatan apa-apa dengan Dee selain dari pada sahabat bermain dan bercanda.Hidup Dee memang penuh dengan rahasia. Aku mengenalnya baik, dan sampai sekarang tidak bisa mengerti keadaannya. Dee sakit pun aku tidak pernah tahu. ”Dia masih terbaring” ucapnya padaku.”Keadaan yang mengharuskan dia begitu” balasku.”Setahun silam aku meninggalkan dia. Dia begitu spesial bagiku. Kami berbeda. Dee sangat mencintaiku, begitu pula denganku”.”Cinta itu kadang memilukan” ”Ya, karena itu aku meninggalkan Dee. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami karna kami memang berbeda.””Berbeda dari apa?Kamu meninggalkan dia karena sakit kan?””Tepat. Aku tidak mau menjalani cinta jika suatu saat ditinggal mati”.”Brengsek. Kenapa kamu sekarang kesini?”Dia diam. Lorong rumah sakit menjadi ajang adu argumen antara kami.”Semua telah terjadi. Penyesalan tiada arti. Hidup ini adalah pilihan, dan aku memilih untuk seseorang yang lebih kucintai. Aku kesini karena aku masih mencintai Dee”Hatiku langsung bergemuruh. Aku tak menyangka masih ada seorang seperti dia. Meninggalkan kekasihnya dengan alasan pasangannya sakit. Pemuda itu melanjutkan perkataannya.”Dee punya harapan. Dia pernah punya keinginan untuk pergi ke sebuah dunia miliknya. Dunia di atas awan. Semoga kamu bisa memenuhinya.””Dia….Dee sudah pergi ke dunia itu. Sebelum dia tertidur di atas pembaringan. Bodohnya kenapa aku tidak tahu kalau dia mengidap kanker”.”Dee sudah siuman. Dia memanggil namamu” panggil ibu Dee padaku.Aku lekas menghampiri Dee. aku ingin selalu berada di sampingnya. Tangannya bisa bergerak sedikit. Matanya sayu menatapku penuh arti. Dia tersenyum, dan akhirnya tangan itu tak bergerak lagi. ”Dee… kamu tidak akan mati hari ini. Semangatmu untuk bermain di bukit Maya akan mengalahkan sakitmu. Aku bersedia menemanimu bermain di sana, di bukit Maya yang berada di dunia di atas awan.”Air mataku mengalir. Detak jantung Dee semakin melemah. Haru ini bukan milikku saja. Ibu Dee dan pemuda yang meninggalkannya juga merasakannya. Kini, ruangan itu menjadi berkumpulnya hati yang setia bersama Dee. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar