Jumat, 15 Juni 2012

AKU


    

      Alkisah, para anggota tubuh sedang berdiskusi untuk membicarakan
tentang aktivitas yang mereka lakukan. Entah bagaimana mulainya, diskusi
berkembang menjadi pembicaraan tentang siapa yang paling penting diantara
mereka.

      "Akulah yang paling penting," kata mata. "Dengan menggunakan aku,
manusia dapat melihat dunia dan memperhatikan segala sesuatu."

      "Sebentar, mata..." sergah otak. "Kamu tidak bisa menyatakan sebagai
organ yang paling penting bagi manusia. Apa-apa yang kamu lihat itu semua
dicerna melalui aku, otak. Melalui aku, manusia berfikir, melalui aku,
karya-karya manusia dihasilkan..."

      "Kalau aku berhenti bekerja, kamu otak tidak bisa bekerja," jantung
menyela. "Jadi, akulah yang paling penting karena tanpa aku manusia tidak
dapat bekerja..."

      "Lalu, apakah aku tidak penting bagi manusia?" tiba-tiba ada suara
pelan dari belakang.

      Semua anggota badan menengok. Dan ketika melihat siapa yang
berbicara, semua organ tertawa terbahak-bahak. Ternyata dubur yang
memberikan pertanyaan.

      Merasa malu karena dihina dan dipermalukan, keesokan harinya dubur
mulai melakukan mogok total. Dia tidak mau bekerja sehingga manusia tidak
dapat melakukan buang air besar, bahkan buang angin sekalipun. Tak berapa
lama, kepala manusia menjadi pusing, mata berkunang-kunang, otak sama
sekali
tidak dapat digunakan untuk berfikir, dan jantung pun berdebar-debar.
Praktis, manusia menjadi sakit dan tidak dapat berbuat apa-apa akibat
pemogokan dubur.

      ...
      -()-

      Cerita di atas memang fiktif dan kita mungkin sudah sering
membacanya. Tapi tidakkah kita perhatikan bahwa pembicaraan semacam itu
sebetulnya sering terdengar di sekitar kita?

      Di dalam organisasi tempat kita beraktivitas, di ruang kantor tempat
kita berada, pembicaraan tentang "siapa yang penting" itu demikian sering
kita dengar. Bahkan tanpa disadari, kita mungkin menjadi salah satu
pencetus
atau pembicaranya.

      Jika kita terlibat dalam pembicaraan semacam itu, kita biasanya
cenderung bersikap seperti mata, otak, ataupun jantung. Adakalanya kita
menganggap diri kita atau divisi kita sebagai bagian yang paling karena
kita
merepresentasikan organisasi kita di dunia luar sebagaimana mata,telinga,
atau mulut. Kita pun dapat merasa diri kita paling penting karena kita
menghasilkan sesuatu yang signifikan sebagaimana otak yang berfikir bagi
manusia. Atau, kita dapat merasa paling penting karena tanpa kita,
perusahaan dan organisasi akan berada dalam bahaya.
      -()-

      Fokus pada diri, keakuan, ego, dan problem-problem eksistensialis
memang senantiasa menantang dalam jalan kita menuju pembebasan. Jika kita
punya waktu, rasanya layak kita simak pelajaran di dalam kitab suci tentang
kejatuhan iblis.

      Iblis jatuh dan dikutuk Tuhan bukan karena dia tidak mampu berbuat
baik; tapi karena dia tidak mau menuruti perintah Tuhan untuk sujud kepada
Adam. Karena dia merasa bahwa Adam tidak lebih baik darinya. Karena dia
memandang rendah Adam. Karena dia "merasa diri (rumongso)". (Jakarta,
10.12.00)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar